pesta (cerita pendek)

pesta/pes·ta/ /pésta/ n (1) perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya); (2) perayaan: panen bagi mereka merupakan suatu (2).

Menurut KBBI, inti dari pesta adalah bahagia. Bahagia karena merayakan sesuatu disertai bumbu perjamuan makan di dalamnya. Aku sudah biasa mengikuti acara seperti ini. Pesta ulang tahun. Pesta perayaan tahun baru. Pesta pernikahan. Pesta kelulusan. Atau sesederhana pesta di akhir minggu karena merayakan esok hari adalah hari libur, Minggu.

Aku pikir semua orang menyukai pesta. Setiap sudut kulihat semua orang sedang bersenang-senang. Ada yang tertawa lepas menananggapi temannya yang sedang melucu. Beberapa menggoyangkan badan mengikuti irama musik yang menghentak-hentak keras. Beberapa yang lain menikmati makanan dan minuman yang lezatnya luar biasa. Ada pula pasangan yang memilih untuk duduk dan merapatkan tubuhnya satu sama lain. Itulah mengapa aku menganggap semua orang suka pesta.

Sayangnya, tidak denganku.

Aku menganggap pesta adalah suatu fenomena yang fana. Kebahagiaan yang ditimbulkan hanya sementara. Esok hari, saat semua orang terbangun di tempat tidur masing-masing –atau di tempat tidur pacarnya—mereka akan dihadapkan pada keadaan yang sama monotonnya seperti sebelum mereka berpesta. Mereka akan kembali bekerja, kuliah, atau apa pun rutinitasnya. Tidak, teman. Pesta tidak benar-benar membuatmu bahagia. Pesta hanyalah suatu cara atau alat untuk melupakan hiruk-pikuk kenyataan yang sebenarnya dan sayangnya, hanya dalam hitungan jam. Sangat fana.

Meskipun aku melabeli pesta itu fana, aku tetap datang ke setiap pesta yang diadakan temanku. Semua ini hanya sebatas bentuk kemanusiaan. Aku tidak mau pandanganku mengenai pesta meruntuhkan tembok pertemananku yang sudah terjalin sejak lama. Setiap aku berada dalam lampu gemerlap dan musik yang keras, aku memilih duduk dan melihat sekitar. Terkadang, satu atau dua teman mengajakku bercanda dan aku tertawa bersamanya. Namun, aku tidak benar-benar menikmatinya.

Seperti malam ini.

Raya, teman dekatku, seperti biasa mengadakan pesta di Sabtu malam. Seperti biasa pula, ia selalu mengundangku padahal ia tahu bagaimana tingkah anehku saat di pesta. Ia selalu berkata, “Bersenang-senanglah kali ini, Lir!” Ia selalu berharap aku menemukan kebahagiaan di antara orang-orang yang bahagia. Argumennya tetap sama, “Surrounding yourself with happy people will make you happy too.” Aku rasa intepretasinya untuk kalimat ini salah. Semua orang di pesta rata-rata bahagia karena konsumsi alkohol yang mereka tenggak. Suasana pesta sangat mendukung untuk bahagia. That’s why, kalau mengelilingi diriku dengan orang-orang bahagia ini, maka kebahagiaanku pun hanya akan terpentok pada aku harus minum alkohol juga. Sayangnya, ini fana.

“Bosan?” Suara berat seorang laki-laki mengagetkanku.

Aku mendongak dan menemukan seorang laki-laki berkacamata tepat berada di depanku. Tubuhnya agak menunduk untuk mempermudah dia bertanya kepadaku. Suara dentuman musik yang menggelegar memaksanya untuk mengambil posisi seperti ini. Karena dirasa sudah mendapat perhatianku, laki-laki itu duduk di sebelah kananku yang tak terisi. Ia terlihat sangat santai. Raut mukanya bahagia karena ia tersenyum sedari tadi. Ah, aku tidak heran ini kan pesta.

“Hey!” Ia melambaikan tangannya di depan wajahku.

“Eh uh ya?” Jawabku gelagapan. Kuperhatikan dengan baik-baik laki-laki di sampingku ini. Dia cukup tinggi mungkin 180 cm dilihat dari kakinya yang terlipat dan terlihat seperti kepiting. Kaos dan celana jeans yang ia kenakan berwarna hitam dan ia juga menambahkan jaket polos warna abu-abu tua dengan lambang converse kecil di dada sebelah kiri. Mataku turun ke bawah dan seperti dugaanku, chuck taylor usang berwana biru tua entah hitam aku tak bisa melihat dengan jelas karena cahaya terlalu remang-remang di bawah sana. Wajahnya oval dengan garis rahang tidak terlalu tajam. Rambutnya tebal, lurus, dan ia biarkan acak-acakan. Seperti yang aku katakan, ia memakai kacamata dengan bingkai kotak yang tajam padahal matanya sedikit terlihat lebih hangat. Secara keseluruhan aku dapat menyimpulkan laki-laki ini menarik.

“Udah observasinya?” Katanya dengan nada mengejek. Aku terkekeh ringan. “Aku kan tadi tanya, lagi bosan?” Ia kembali bertanya.

Who knows you’ll be a pyscho kidnapper? Hahaha. Ya, gitu lah. Party is not my thing.

“Terus? Ngapain di sini?” Ia memiringkan kepalanya ke kanan.

“Ada 2 alasan. Alasan kemanusiaan dan alasan pribadi.”

Spill out!” Perintahnya. Ia kemudian minum dari minuman kaleng di tangannya. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah yang ia minum itu soda.

“Hahaha…” Aku pura-pura tertawa. “Enggak penting. Lagian, itu kan rahasia.”

“Yeeeeh… gitu doang juga dan  alasan kemanusiaan? Alasan apa itu untuk datang ke pesta?” Ia bertanya penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawabku singkat.

“Aku punya banyak waktu.” Katanya meyakinkanku.

Aku diam tak menjawab. Untuk apa aku menceritakan hal pribadi kepada seseorang yang aku tidak tahu sama sekali. Bahkan, baru 5 menit yang lalu kami bertemu. Suasana hening. Aku ataupun laki-laki itu sama-sama tak tahu harus berkata apa dan bertingkah bagaimana. Aku sok sibuk dengan gadget di tanganku dan laki-laki itu hanya bersandar di sofa dengan santai sesekali menenggak minuman kalengnya.

“Itu soda?” Tanyaku memecah keheningan.

Laki-laki itu mengangguk samar. “Keluar, yuk?” Ajaknya.

Aku memicingkan kedua mataku dan menatapnya dengan tatapan bingung. Dua detik kemudian tanganku ditarik. Aku dibawa keluar dari keramaian fana ini menuju pelataran rumah Raya yang lebih tenang. Bangku di tamannya kosong, kami mengambil posisi dan duduk dengan canggung di sana.

“Aku juga enggak suka pesta.” Laki-laki itu berkata dengan tenang. Suasana yang hening tidak menelan suaranya yang ternyata lebih rendah dari yang aku kira. Dengan pencahayaan yang lebih terang, aku dapat memastikan chuck taylor-nya berwarna hitam dan bersol putih. Ah, klasik.

I’m not the only one, then.” Aku tersenyum. Pandanganku ke bawah tak berani menatapnya.

And it’s okay.” Kembali dia meyakinkanku. “Apa yang orang suka, belum tentu kita suka, dan kita enggak harus ngikutin itu.” Aku merasakan mata laki-laki itu menatapku dari samping.

“Setuju.”

Kami kembali dalam diam.

“Baca?” Laki-laki itu meneguk sodanya. Ah, ternyata ia masih membawa kaleng itu. “Suka?” Lanjutnya.

“Yap! Sayangnya, rutinitas enggak ngizinin aku buat baca lama-lama.” Giliranku saat ini yang mengarahkan pandangan ke arahnya. Ia sedang menerawang jauh di depannya.

Perks of being an adult, yeah?” Dia terkekeh pelan.

Aku mengangguk pelan sambil membenarkan, “Technically, we’re young adults.” Aku menarik napas dan melanjutkan, “Jadi? Kita sama aja dong! Pake nge-judge aku lagi tadi.” Kataku dengan nada yang kubuat kesal.

Dia tertawa renyah. “Observing a stranger, maybe?” Katanya. “By the way, aku ada rekomendasi tempat nongkrong oke.”

“Terus?” Aku bertanya sok penasaran. Well, I know how it goes.

“Kita bisa kesana.” Ajaknya. Lagi.

“Lah? Ini tengah malam dan kamu cuma orang yang baru aku kenal 30 menit yang lalu. Enggak seharusnya aku ngikutin gitu aja. Lagian, aku aja enggak tahu nama kamu.” Aku berceramah layaknya pengkhotbah sholat Jumat kepada makmumnya.

“Kedainya 24 jam dan aku Iqbal.” Katanya singkat.

Aku terdiam heran. Laki-laki ini benar-benar irit kata.

“Jadi?” Alisnya terangkat.

“Oke. Aku bosan setengah mati di pesta itu.”

“Setuju. Besides, kita bisa lebih produktif baca-baca. Di tempat itu setengah ruangan isinya fiksi dan beberapa biografi. Enggak harus bawa buku sendiri.” Aku rasa ini adalah kalimat terpanjang yang ia katakan sejak kami berbicara. Dia terlihat antusias seperti anak kecil yang memamerkan mainannya. Bedanya, apabila anak kecil egois tidak mau membagi kebahagiaan dan hanya pamer semata, laki-laki ini bahagia karena ia berbagi.

Kira-kira 10 menit kami sampai di tempat tujuan. Kafe itu nyaman. Seperti kebanyakan kafe, ia menyediakan berbagai olahan kopi, mulai dari black coffee dari penjuru dunia hingga racikan dengan ditambah ini-itu, frappucinno. Aku memilih kopi hitam dan berpesan tak perlu repot-repot mengantarkan gula. Ia memesan minuman yang sama.

Aku meninggalkan pemuda itu untuk melihat-lihat buku di rak samping bar. Kupilih fiksi berjudul Nick and Norah’s Infinite Playlist. Aku baru tahu kalau ternyata salah satu film favoritku diadaptasi dari sebuah novel. Saat aku bertolak dari rak buku itu, pandanganku mulai menjelajah ruangan. Tak sulit menemukan pemuda itu di tengah malam di kafe yang sepi pengunjung seperti ini. Ia memilih tempat pojokan dengan sofa yang terlihat nyaman di sana.

Good choice.” Katanya.

Sepuluh menit berlalu.

So, nama kamu siapa?” Laki-laki itu menutup dan meletakkan Norwegian Wood-nya di atas meja.

“Oh iya. Lupa. Lira. Panggil Ra, jangan Lir.” Perintahku. Satu-satunya orang yang memanggilku Lir adalah Raya dengan alasan dia tidak mau panggilan mereka sama. Aku sudah berargumen dengannya beberapa kali dan menekankan bahwa Ra dan Ray adalah dua hal yang beda tapi ia tetap dengan pendiriannya. Akhirnya, aku memilih mengalah.

“Enggak ada yang salah dengan pesta, Ra.” Ia duduk tegak raut mukanya serius. “Aku nggak suka but I could embrace it really well, I guess.” Iqbal berbicara serius seolah-olah ia telah mengenalku selama belasan tahun.

Aku menceritakan kepadanya tentang konsep fana di dalam pesta kepadanya. Sesekali ia mengungkapkan argumen atau hanya membalas dengan ‘ya’ dan anggukan. Aku rasa ia mengerti. Ia adalah versi lain dari diriku hanya saja lebih terbuka.

“’Surrounding yourself with happy people will make you happy too.’ Aku setuju dengan Raya tapi aku rasa kamu harus menemukan bagaimana versi happy people menurut kamu biar kamu bisa menemukan happiness. Kalau kamu enggak bisa blend in dengan konsep bahagia orang lain, then be one and create one.”

Malam itu kami habiskan dengan mengobrol panjang lebar tentang kehidupan, fana, orang yang bahagia, pencapaian, cita-cita dan banyak konsep lainnya. Kisah kami hanya bermula dari kebosanan sebuah pesta yang orang lain suka tapi kami tidak. Sejak itu, kami sudah menemukan konsep happiness dan happy people. Happiness bagi kami adalah menghabiskan banyak fiksi dengan diiringi alunan musik yang lembut di kafe favorit kami, di sini. Sementara, happy people menurut kami bukanlah orang-orang yang tertawa dan mengikuti alunan musik di pesta, tetapi barista, pelayan kafe, orang-orang yang berlalu lalang di di dalamnya, buku-buku, musik-musik lembut, dan Iqbal—menuruku, serta aku—menurutnya.

 

***

miladiyah 2017

Advertisements

(discl: in indonesian, long, n very personal) // tentang isu kepercayaan

Halo. Selamat malam (setidaknya untuk saya saat ini, gah ‘saya’ seems awkward). Entah bagaimana ceritanya, rasanya pingin nulis pake Bahasa Indonesia. Aneh? Banget. Bukannya sok inggris/bule, tapi ada alasan mengapa rasanya lebih nyaman pake Bahasa Inggris walaupun pakenya yg sederhana dan gampang doang, masih salah sana sini pula, yaitu bisa bersembunyi di balik setiap kata dan tidak terkesan cheesy (aku nggak bisa nemuin bahasa indonesia yang cocok untuk ini). Menulis dengan Bahasa Indonesia membuat kita yang terbiasa menggunakannya sehari-hari menjadi tau makna yang dalam dan terasa dekat. Terkadang, aku nggak suka dengan itu.

Bahasa Inggris menyamarkan apa yang ingin aku ucapkan meskipun aku harus berpikir keras menguntai satu persatu. Bahkan, kata menguntai barusan terkesan aneh sekali. Mungkin karena akunya yg nggak terbiasa. Menulis dengan Bahasa Indonesia membuatku teringat dengan cerita-cerita pendek yang aku tulis dan bermukim di laptopku (see, you could just use ‘live in my laptop’ without feeling awkward), kata-kata yang aku pilih dan cara penyampainnya rasanya terlalu mellow dan cheesy. Entah mengapa, aku selalu terkesan seperti itu setiap kali menggunakannya.

Ada juga kok saat dimana pake Bahasa Indonesia itu menyenangkan. Bahasa ini tentu indah, dan mungkin lebih banyak ragamnya (tentu karena aku menggunakannya), tapi saat ini alasan pake Bahasa Indonesia adalah… sepertinya lebih cocok aja.

Isu Kepercayaan, aku tulis di kolom judul. Mendadak ingin cerita ini karena teringat sesuatu.

Siang ini aku mengunggah sebuah foto di Instagram, yaitu tulisan yg aku post juga di sini beberapa hari yg lalu. Tentang ‘letting go’ (click it) jika kalian bertanya-tanya. Hal ini mau nggak mau bikin aku berpikir kenapa aku benci sekali dengan merelakan orang pergi, menggantikannya dengan yang baru. Setelah menganalisis lumayan panjang (selama aku menggosok gigi sore tadi), aku tidak sengaja teringat dengan kejadian semasa SD.

Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan lingkungan sekolah ‘kalo nggak pinter dan nggak mau nyontekkin nggak bakal ada temen yg mau deketin’ dan it sucked, tentu saja. Bagaimana seorang anak kecil sudah harus berbenah diri agar tidak dijauhi teman-teman lainnya. Aku ingat bagaimana aku harus sok baik dan mau melakukan apa saja kepada temanku yg lain agar aku diterima. Aku mau menjadi bagian dari lingkar pertemanan anak ini, sehingga aku harus berusaha diakui.

Nyatanya, mudah saja kala itu. Bukannya sombong, tapi aku lumayan pintar dan itu menjadi ‘modal’ untuk bisa diterima. Apalagi saat kamu menguasai apa yg tidak teman kamu kuasai. Waktu itu di kelas 4, aku mulai les Bahasa Inggris sementara teman-teman yang lain tidak, sehingga sejak saat itu jika ada PR Bahasa Inggris beberapa teman minta bantuan atau simply nyontek aja. Saat itu aku merasa benar-benar diterima. Gh, anak SD memang payah. Aku rasanya masih marah kalo ingat itu.

Kemudian, aku lupa persisnya bagaimana, di kelas 5 aku dijauhi, for the sake of aku nggak mau nyontekin. Mereka bilang aku terlalu sombong untuk itu, padahal jelas-jelas tidak semua momen bisa nyontek gimana kalo ulangan coba. Mereka bilang aku suka memotong pembicaraan dan tidak menyenangkan (untuk ini aku bisa terima, mungkin sampe saat ini aku masih begini). Mereka mengirimiku surat berisi list mengapa aku bukan teman yang baik, by the way.

Lingkaran pertemanan yang aku sangat berusaha untuk masuk kedalamnya dengan rela melakukan apa saja akhirnya menjauhi dan tidak berbicara kepadaku. Lama-lama menjadi satu kelas. Hal ini terjadi sangat cepat dan awalnya aku sama sekali tidak tau apa-apa. Bingung harus bagaimana. Teman-teman ini, mau ngga mau harus kukatakan, punya kekuatan untuk berkonspirasi menyuruh yg lain agar tidak berteman dengan seseorang. Aku pernah sendiri merasakan menjauhi seorang teman karena kesepakatan bodoh bersama orang-orang ini. Aku juga teman yg jahat kalo teringat ini. Tapi sungguh, rasanya aku seperti ingin keluar dari SD ini kala itu. Hal ini berlangsung sampe aku kelas 6.

Ketika tahun ajaran baru dimulai, aku tidak lagi berfokus dengan pertemanan ini. “Okay kalo aku harus sendiri, toh aku juga bisa dengan semua pelajaran ini, aku tidak butuh bantuan siapa pun.” aku seperti selalu mengatakan semua ini setiap hari. Hal ini yang membuatku termotivasi untuk tidak mau melanjutkan SMP di daerah tempat tinggalku karena pasti aku akan ketemu mereka dan aku tidak suka harus berada di masa-masa itu lagi. Lingkungan tempat tinggalku kecil, kita selalu bisa bertemu siapa pun dengan tidak sengaja setiap hari.

Kelas 6 rasanya sepi sekali. Aku kemana-mana sendiri. Aku berangkat diantar Bapak dan pulang melalui jalan yang berbeda dengan teman-teman yang lain. Kalau ada yg lewat jalan yg sama denganku, aku akan mempercepat langkahku atau memperlambatnya agar tidak terpaksa jalan beriringan dengan mereka. Setiap jam istirahat aku langsung ke warung dekat sekolah bersama sepupuku, yang baru saja masuk kelas 1 SD kala itu, untuk beli jajan roma malkist 2 bungkus dan berdua, kita makan di sana sampai bel masuk berbunyi.

Suasana belajarku di kelas lebih sunyi karena aku duduk sendiri dan tidak ada yg bertanya kepadaku. Aku selalu duduk di depan dan bangku sebelahku kosong. Sebenarnya anak-anak di kelasku genap, hanya saja ganjil di setiap jenis kelaminnya, jadi ada 1 anak cowok yang duduk sendirian dan 1 cewek yg duduk sendirian pula -aku. Aku tidak keberatan. Kalo aku mengalami kesulitan dan butuh jawaban aku akan langsung angkat tangan dan bertanya kepada Bu Guru. Kalo aku bisa menjawab pertanyaan atau kuis-kuis beliau aku pun langsung angkat tangan untuk menjawabnya tanpa perlu merasa tidak enak selalu terlihat aktif dan tanpa harus membagi jawaban ke teman yg lain. Believe me, I was kinda star. The coolest fact? I was a star. On my own. HAHA

Tidak tau persisnya kapan, tapi lama-lama semua rasanya kembali normal dan ‘mereka’ kembali sok berbasa-basi denganku. Aku tidak peduli. Kujawab semauku tanpa ambil pusing. “Okay kita berbicara lagi, tapi entahlah.” Begitu kira-kira. Apalagi, saat Bu Guru menerapkan sistem tutoring dimana anak-anak yang dirasa mampu akan dipasangkan ke yg tidak terlalu mampu. Bukannya sombong lagi, tapi tentu saja aku orang yang mampu menjadi tutor bagi temanku. Saat itu aku harus duduk dengan teman yang tidak terlalu bisa dan aku harus berinteraksi dengannya. Untungnya teman ini bukan termasuk gerombolan menyebalkan itu jadi rasanya lumayan. Sialnya aku duduk di antara mereka-mereka ini dan ini sangat mengganggu karena terkadang mereka pun bertanya kepadaku.

Semua rasanya tidak nyaman. Namun, akhirnya aku berhasil keluar dari SD itu dengan bangga. Sialnya, teman-teman ini adalah orang-orang yang tinggal berdekatan dengan rumahku, sehingga aneh memang untuk bermusuhan tapi aku tetap merasa tidak nyaman berada di antara mereka, oleh karena itu aku berjanji untuk tidak mau lagi bertemu atau berteman dengan mereka. Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa kala itu, aku diterima di SMP yang lumayan jauh dari rumah, sehingga aku tidak harus bertemu dengan mereka dan aku punya teman serta lingkungan yang baru yang tidak tau apapun tentang diriku. Menyenangkan.

Aku rasa apa yang aku alami waktu kecil ini berpengaruh denganku saat ini. Aku mungkin terlihat menyenangkan dan mampu berteman dengan cepat, tapi sungguh aku susah sekali memulai pertemanan. Aku tidak mudah percaya. Kalopun aku mulai percaya, aku akan sulit melepaskan karena artinya aku harus mulai semuanya dari awal dengan kecemasan akan dijauhi lagi. Bukankah menyenangkan mempunyai orang yang bisa kamu percayai selamanya?

Siklus yang terus berulang yang sialnya akan tetap ada entah sampai kapan: people come and go.

Melepaskan tentu sangat berat bagi semua orang. Bagiku itu sangat berat. Kalian tau? Rasanya sepi sekali saat aku tidak punya teman. I was 9 years old and all alone every single day.

Even, I’m impressed I didn’t brag not for once.

Kalo aku tau ada tv series 13 reasons why kala itu, mungkin aku akan bunuh diri mengikuti jejak Hannah Baker. Sungguh, bagaimana seorang anak kelas 5 SD berumur 9 tahun harus menghadapi kenyataan kalo tidak ada satu orangpun yg mau berteman dengannya? Lagi-lagi kalo ingat itu aku marah sekaligus sedih, tapi juga bangga bisa melaluinya. Aneh, ya.

Hey, aku hidup sampe saat ini!

Mungkin ini juga jawaban mengapa aku tidak punya teman dan tidak mau keluar rumah kalo aku pulang. Mom. Dad, I was hurt by them and I don’t want to be close to them.

Mungkin ini juga jawaban mengapa aku menjadi orang yg suka ngomongin sesuatu yg nggak penting agar aku tetap bisa bicara dengan kalian, mendapat perhatian, dan tidak dijauhi.

Mungkin ini juga jawaban mengapa aku sangat peduli dengan teman karena aku tau rasanya tidak punya teman.

Mungkin ini juga jawaban mengapa kadar introvert-extrovert ku yang hampir seimbang karena di satu sisi aku akan berusaha berteman karena tidak mau sendirian, dan di sisi lain aku pernah dikecewakan oleh orang-orang, sehingga aku terbiasa sendiri. (Sungguh ini kesok-tauanku. Kalian pasti tau aku soktau. Kata Mbak Dita, sifat ini diturunkan dari Bapak.)

Mungkin ini juga jawaban mengapa aku susah sekali melepaskan pertemanan, menerima tantangan, memulai sesuatu yang baru karena artinya aku mengalami siklus yang baru dan takut akan membuka luka lama.

Dan banyak kemungkinan lainnya yang membuatku menjadi diriku saat ini.

Aku tidak bisa menyalahkan siapapun terkait dengan yang kualami dulu. Mungkin memang benar aku sombong, bukan teman yang baik, tidak menyenangkan, dan suka memotong pembicaraan, oleh karena itu aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku juga tidak bisa menyalahkan diriku sendiri karena mereka pun menyuruh yg lain tidak berteman denganku dan kenapa mereka tidak langsung saja ngomong langsung kepadaku tentang aku agar aku berbenah.

Tapi tentu saja hal ini ada sisi positif bagi diriku kalo aku menjadi lebih menghargai teman yang mau berteman denganku tanpa pamrih, itulah teman yang pantas dipertahankandan aku menjadi tau ada orang-orang yang pantas untuk dilepaskan. Ah tentu saja, aku menjadi sadar dengan ke-annoying-anku, meskipun sulit sekali untuk memperbaiki yg satu itu.

Aku tidak tau apakah judul dan isi post ini berhubungan. Aku tidak tau pula apakah aku benar mengaitkan satu sama lain. Akan tetapi, aku senang bisa cerita.

Tidak apa, kalo kalian sehabis ini nggak mau lagi berteman denganku karena aku sangat menyedihkan atau menyebalkan atau bahkan membingungkan, hehe. Tapi jangan coba-coba untuk merasa kasian, karena aku nggak butuh itu. Aku pernah sendiri dan kurasa kau tau artinya.

Kalo di antara kalian temanku di kehidupan yg nyata dan kebetulan membaca ini, maaf ya aku sangat annoying dengan segala multiple texts, cerita tidak penting, dan hal yg lain. Tapi percaya deh, aku sungguh-sungguh sayang sekali dengan kalian jika aku menunjukkan ini.

Mau tak mau memang ini membuatku belajar untuk memilih, meletakkan kepercayaan kepada orang yang benar. Stay close or cut them off. Walau ujung-ujungnya isu kepercayaan ini tetap ada dalam diriku, tapi bukankah kita semua harus begitu?

Mungkin saja aku tidak akan memperbaiki yang satu ini sekarang atau di masa yang akan datang.

Aku hanya menjaga agar tidak merasakan hal yang sama. Anggaplah aku hanya menjaga diriku dari kejadian buruk di masa lalu.

Tentu saja, teman-teman yang baik akan menerima kita apa adanya dan akan tetap ada entah dimana mereka berada, meskipun takdir mengatakan mereka harus melangkahkan kakinya ke tahap kehidupan selanjutnya dan kita tetap berada di tempat yang sama. True friends will stay. Trust is needed.

Post ini rasanya seperti tarik-ulur. Bertentangan satu sama lain. Entahlah. I’m Aquarius, after all (dan Aquarius memang aneh sekali. A little fact about these people: love them or hate them, dan kalo udah cuek tidak bakal dianggap lagi tapi kalo keterlanjur peduli, i’ll swim the ocean for you.)

Please, get me!

Um, kurasa ini menjadi cerita yg sangat panjang sekali. Okay, aku pergi dulu. (seeeee, this is so weird like you can say “i’ll sign out” without feeling awkward).

a playlist

so yeah.

i made this playlist like few days ago before starting to read some thesis materials. it took me around 30 minutes or so before doing it actually, yeah, happens all the time. sometimes just dont trust the “lets make a playlist first”, it’s a trap, lol

but here it is… enjoy! bcs i do, hehe

well, the name is ‘a playlist for my iced coffee’ because first, these are the song that i want to listen currently, well even many of them always on the list esp the arctic monkeys ones, and second, i drink iced coffee too much these days, i even made one everyday all by myself and even it’s 10 pm.

yep.

a friend told me; that she didn’t like being too close because at the end, we’d end up saying good bye.

Have you ever wondered about that?

Have you ever had a thought in your head; that you didn’t want to get attached too much because it would hurt too hard?

You need to let them go, eventually.

I had. I had it many times.

Letting go is like emptying the bottle that once fulfilled with water.

you’d be face by nonexistence; the absence of their presence,

and need to be ready with only air exploring the empty body.

How do you manage that? How do you open up your heart for someone new if what you only need is them staying here a little bit longer?

May This Be A Good One

A May post. I had an urge to write but didn’t have much time to compile everything into a good writing. Ugh, never mind. I’ll write what I want to.

Surprise and more surprise in this month. I even didn’t expect but God is always good. Right. No question mark.

A little thing unrelated to God (or bit deviant?), I always check my horoscope in the beginning of the week on one of the astrology account on twitter. It’s @poetsastrologers, in case you want to try your luck. But man, it feels so accurate and sometimes motivates me. Last month, they told me all about “You’ve been doing it and still no results but don’t stop. Keep going. You get there.” And this month is all about “You get what you need.” And stuff. And it’s surprisingly coming true. I shouldn’t rely onto this thing, but I will keep what is good and throw what is bad. You know, sometimes, what doesn’t make sense could make us keep going and motivate us. In a ridiculous way, yeah, but it does (it did).

I didn’t talk much about my college life to everyone because it’s one of the sensitive parts you shouldn’t touch. I was trying my luck (driven by astrology) and now I’m here, kinda step out a little. Still long way to go, I must say… but a small step has meaning, of course.

Do not underestimate ever little thing we take! That’s what I keep in my mind, so I will not feel small in front of everyone.

This issue has been shadowing me like forever. People’s achievements sometimes worries me; this makes me comparing myself to them; leads me to overthinking that I’m small, useless, pathetic, and not capable of doing things. One word: negativity. Don’t let that word take our mind. Seems easy? Nah, I often wake up at 3 am just to cry and regret everything. It takes time learn how to adjust the situation and calm the nerves. Our mind can eat ourselves. That is why we should believe that we are different; we have our own timeline; we have our own journey. They may get a thing today, but maybe we will get it tomorrow, or the next day after tomorrow, or next year. No one knows, but only thing that I’m sure: we will.

Sounds cliche? Uh well, this is how I work on my own anxiety. It doesn’t mean 100% I’m healed. But at least, it makes me feeling better. So maybe, it will work for you too who does feel the same. What we are doing has meaning, even it is small until we can’t see… it is happening.

I wonder why I always have this kind of talk in every post I write. It feels like I’m talking to myself. Well, who knows.

By the way, loosen up a bit!

Arctic Monkeys has finally released a new album. You don’t know how happy I am getting a new music. This is what I’ve been waiting all this time. I listen to it on Spotify, enjoy one by one. The title is Tranquility Base Hotel & Casino. Yes, I know. They sound different. Honestly, something that I didn’t guess. I expected more drums and more beats, and more loud. And all we got is a swinging, slow, and more pianos. But oddly, I still enjoy it. I feel like I’m having love-hate relationship with this new album. I love it but I hate it. I love they sound more like Alex in Submarine’s soundtrack and also the lyrics but I hate the fact they reduce the drums and the whole album sounds like just the same. If I compare to the old ones, I feel disappointed but when I leave it alone, I’m in love and enjoying too much. Well, so glad that we finally got a new one!

And another exciting part is: they still play many old song live. Okay then… I’m okay. There was this crowd in Berlin that went crazy and whoah, that is all I need!

(sorry, i 100% forget where i found these pics, if i found the source, id edit it)

Ah, I finally watched movie alone at cinema. Been on my bucket list since 2 years ago and yeah finally. I watched Avenger: Infinity War. It was a mixed-up feeling. If I could, I would definitely scratch that purple face of Thanos for messing up with my kid, Peter Parker. Gosh! Dear Marvel, leave him alone. Do not do anything stupid!

Anyway, the feeling of watching movie alone is fun. Now, I don’t need to worry if my friends aren’t going. You just focus with the movie, nothing else. Ultimate me-time, it is.

I got a chance to see Reality Club live! It was like… FINALLY! Definitely one of my favorite performances. Such an amazing experience. I love the energy. I sang along with all of my heart, stamped my right foot following the rhythm sometimes hoped, and even screamed. Yeah, I was that happy. Fathia danced like there’s no tomorrow. All good. All fun. All fine.

(i took these, i know im a shitty photographer but man i aint got time to focus on that i was busy singing n dancing)

Well, I’m home now. Enjoying the more slow motion. Also, it’s Ramadan, meaning a fasting month. Wish us a blessed one.

and, wish me luck on my thesis. HA.

I got a lot to tell. Like a lot. But my fingers don’t wanna type and my brain don’t wanna think. Didn’t know why, but I kinda want want to post this. So, yeah.