pesta (cerita pendek)

pesta/pes·ta/ /pésta/ n (1) perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya); (2) perayaan: panen bagi mereka merupakan suatu (2).

Menurut KBBI, inti dari pesta adalah bahagia. Bahagia karena merayakan sesuatu disertai bumbu perjamuan makan di dalamnya. Aku sudah biasa mengikuti acara seperti ini. Pesta ulang tahun. Pesta perayaan tahun baru. Pesta pernikahan. Pesta kelulusan. Atau sesederhana pesta di akhir minggu karena merayakan esok hari adalah hari libur, Minggu.

Aku pikir semua orang menyukai pesta. Setiap sudut kulihat semua orang sedang bersenang-senang. Ada yang tertawa lepas menananggapi temannya yang sedang melucu. Beberapa menggoyangkan badan mengikuti irama musik yang menghentak-hentak keras. Beberapa yang lain menikmati makanan dan minuman yang lezatnya luar biasa. Ada pula pasangan yang memilih untuk duduk dan merapatkan tubuhnya satu sama lain. Itulah mengapa aku menganggap semua orang suka pesta.

Sayangnya, tidak denganku.

Aku menganggap pesta adalah suatu fenomena yang fana. Kebahagiaan yang ditimbulkan hanya sementara. Esok hari, saat semua orang terbangun di tempat tidur masing-masing –atau di tempat tidur pacarnya—mereka akan dihadapkan pada keadaan yang sama monotonnya seperti sebelum mereka berpesta. Mereka akan kembali bekerja, kuliah, atau apa pun rutinitasnya. Tidak, teman. Pesta tidak benar-benar membuatmu bahagia. Pesta hanyalah suatu cara atau alat untuk melupakan hiruk-pikuk kenyataan yang sebenarnya dan sayangnya, hanya dalam hitungan jam. Sangat fana.

Meskipun aku melabeli pesta itu fana, aku tetap datang ke setiap pesta yang diadakan temanku. Semua ini hanya sebatas bentuk kemanusiaan. Aku tidak mau pandanganku mengenai pesta meruntuhkan tembok pertemananku yang sudah terjalin sejak lama. Setiap aku berada dalam lampu gemerlap dan musik yang keras, aku memilih duduk dan melihat sekitar. Terkadang, satu atau dua teman mengajakku bercanda dan aku tertawa bersamanya. Namun, aku tidak benar-benar menikmatinya.

Seperti malam ini.

Raya, teman dekatku, seperti biasa mengadakan pesta di Sabtu malam. Seperti biasa pula, ia selalu mengundangku padahal ia tahu bagaimana tingkah anehku saat di pesta. Ia selalu berkata, “Bersenang-senanglah kali ini, Lir!” Ia selalu berharap aku menemukan kebahagiaan di antara orang-orang yang bahagia. Argumennya tetap sama, “Surrounding yourself with happy people will make you happy too.” Aku rasa intepretasinya untuk kalimat ini salah. Semua orang di pesta rata-rata bahagia karena konsumsi alkohol yang mereka tenggak. Suasana pesta sangat mendukung untuk bahagia. That’s why, kalau mengelilingi diriku dengan orang-orang bahagia ini, maka kebahagiaanku pun hanya akan terpentok pada aku harus minum alkohol juga. Sayangnya, ini fana.

“Bosan?” Suara berat seorang laki-laki mengagetkanku.

Aku mendongak dan menemukan seorang laki-laki berkacamata tepat berada di depanku. Tubuhnya agak menunduk untuk mempermudah dia bertanya kepadaku. Suara dentuman musik yang menggelegar memaksanya untuk mengambil posisi seperti ini. Karena dirasa sudah mendapat perhatianku, laki-laki itu duduk di sebelah kananku yang tak terisi. Ia terlihat sangat santai. Raut mukanya bahagia karena ia tersenyum sedari tadi. Ah, aku tidak heran ini kan pesta.

“Hey!” Ia melambaikan tangannya di depan wajahku.

“Eh uh ya?” Jawabku gelagapan. Kuperhatikan dengan baik-baik laki-laki di sampingku ini. Dia cukup tinggi mungkin 180 cm dilihat dari kakinya yang terlipat dan terlihat seperti kepiting. Kaos dan celana jeans yang ia kenakan berwarna hitam dan ia juga menambahkan jaket polos warna abu-abu tua dengan lambang converse kecil di dada sebelah kiri. Mataku turun ke bawah dan seperti dugaanku, chuck taylor usang berwana biru tua entah hitam aku tak bisa melihat dengan jelas karena cahaya terlalu remang-remang di bawah sana. Wajahnya oval dengan garis rahang tidak terlalu tajam. Rambutnya tebal, lurus, dan ia biarkan acak-acakan. Seperti yang aku katakan, ia memakai kacamata dengan bingkai kotak yang tajam padahal matanya sedikit terlihat lebih hangat. Secara keseluruhan aku dapat menyimpulkan laki-laki ini menarik.

“Udah observasinya?” Katanya dengan nada mengejek. Aku terkekeh ringan. “Aku kan tadi tanya, lagi bosan?” Ia kembali bertanya.

Who knows you’ll be a pyscho kidnapper? Hahaha. Ya, gitu lah. Party is not my thing.

“Terus? Ngapain di sini?” Ia memiringkan kepalanya ke kanan.

“Ada 2 alasan. Alasan kemanusiaan dan alasan pribadi.”

Spill out!” Perintahnya. Ia kemudian minum dari minuman kaleng di tangannya. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah yang ia minum itu soda.

“Hahaha…” Aku pura-pura tertawa. “Enggak penting. Lagian, itu kan rahasia.”

“Yeeeeh… gitu doang juga dan  alasan kemanusiaan? Alasan apa itu untuk datang ke pesta?” Ia bertanya penasaran.

“Ceritanya panjang.” Jawabku singkat.

“Aku punya banyak waktu.” Katanya meyakinkanku.

Aku diam tak menjawab. Untuk apa aku menceritakan hal pribadi kepada seseorang yang aku tidak tahu sama sekali. Bahkan, baru 5 menit yang lalu kami bertemu. Suasana hening. Aku ataupun laki-laki itu sama-sama tak tahu harus berkata apa dan bertingkah bagaimana. Aku sok sibuk dengan gadget di tanganku dan laki-laki itu hanya bersandar di sofa dengan santai sesekali menenggak minuman kalengnya.

“Itu soda?” Tanyaku memecah keheningan.

Laki-laki itu mengangguk samar. “Keluar, yuk?” Ajaknya.

Aku memicingkan kedua mataku dan menatapnya dengan tatapan bingung. Dua detik kemudian tanganku ditarik. Aku dibawa keluar dari keramaian fana ini menuju pelataran rumah Raya yang lebih tenang. Bangku di tamannya kosong, kami mengambil posisi dan duduk dengan canggung di sana.

“Aku juga enggak suka pesta.” Laki-laki itu berkata dengan tenang. Suasana yang hening tidak menelan suaranya yang ternyata lebih rendah dari yang aku kira. Dengan pencahayaan yang lebih terang, aku dapat memastikan chuck taylor-nya berwarna hitam dan bersol putih. Ah, klasik.

I’m not the only one, then.” Aku tersenyum. Pandanganku ke bawah tak berani menatapnya.

And it’s okay.” Kembali dia meyakinkanku. “Apa yang orang suka, belum tentu kita suka, dan kita enggak harus ngikutin itu.” Aku merasakan mata laki-laki itu menatapku dari samping.

“Setuju.”

Kami kembali dalam diam.

“Baca?” Laki-laki itu meneguk sodanya. Ah, ternyata ia masih membawa kaleng itu. “Suka?” Lanjutnya.

“Yap! Sayangnya, rutinitas enggak ngizinin aku buat baca lama-lama.” Giliranku saat ini yang mengarahkan pandangan ke arahnya. Ia sedang menerawang jauh di depannya.

Perks of being an adult, yeah?” Dia terkekeh pelan.

Aku mengangguk pelan sambil membenarkan, “Technically, we’re young adults.” Aku menarik napas dan melanjutkan, “Jadi? Kita sama aja dong! Pake nge-judge aku lagi tadi.” Kataku dengan nada yang kubuat kesal.

Dia tertawa renyah. “Observing a stranger, maybe?” Katanya. “By the way, aku ada rekomendasi tempat nongkrong oke.”

“Terus?” Aku bertanya sok penasaran. Well, I know how it goes.

“Kita bisa kesana.” Ajaknya. Lagi.

“Lah? Ini tengah malam dan kamu cuma orang yang baru aku kenal 30 menit yang lalu. Enggak seharusnya aku ngikutin gitu aja. Lagian, aku aja enggak tahu nama kamu.” Aku berceramah layaknya pengkhotbah sholat Jumat kepada makmumnya.

“Kedainya 24 jam dan aku Iqbal.” Katanya singkat.

Aku terdiam heran. Laki-laki ini benar-benar irit kata.

“Jadi?” Alisnya terangkat.

“Oke. Aku bosan setengah mati di pesta itu.”

“Setuju. Besides, kita bisa lebih produktif baca-baca. Di tempat itu setengah ruangan isinya fiksi dan beberapa biografi. Enggak harus bawa buku sendiri.” Aku rasa ini adalah kalimat terpanjang yang ia katakan sejak kami berbicara. Dia terlihat antusias seperti anak kecil yang memamerkan mainannya. Bedanya, apabila anak kecil egois tidak mau membagi kebahagiaan dan hanya pamer semata, laki-laki ini bahagia karena ia berbagi.

Kira-kira 10 menit kami sampai di tempat tujuan. Kafe itu nyaman. Seperti kebanyakan kafe, ia menyediakan berbagai olahan kopi, mulai dari black coffee dari penjuru dunia hingga racikan dengan ditambah ini-itu, frappucinno. Aku memilih kopi hitam dan berpesan tak perlu repot-repot mengantarkan gula. Ia memesan minuman yang sama.

Aku meninggalkan pemuda itu untuk melihat-lihat buku di rak samping bar. Kupilih fiksi berjudul Nick and Norah’s Infinite Playlist. Aku baru tahu kalau ternyata salah satu film favoritku diadaptasi dari sebuah novel. Saat aku bertolak dari rak buku itu, pandanganku mulai menjelajah ruangan. Tak sulit menemukan pemuda itu di tengah malam di kafe yang sepi pengunjung seperti ini. Ia memilih tempat pojokan dengan sofa yang terlihat nyaman di sana.

Good choice.” Katanya.

Sepuluh menit berlalu.

So, nama kamu siapa?” Laki-laki itu menutup dan meletakkan Norwegian Wood-nya di atas meja.

“Oh iya. Lupa. Lira. Panggil Ra, jangan Lir.” Perintahku. Satu-satunya orang yang memanggilku Lir adalah Raya dengan alasan dia tidak mau panggilan mereka sama. Aku sudah berargumen dengannya beberapa kali dan menekankan bahwa Ra dan Ray adalah dua hal yang beda tapi ia tetap dengan pendiriannya. Akhirnya, aku memilih mengalah.

“Enggak ada yang salah dengan pesta, Ra.” Ia duduk tegak raut mukanya serius. “Aku nggak suka but I could embrace it really well, I guess.” Iqbal berbicara serius seolah-olah ia telah mengenalku selama belasan tahun.

Aku menceritakan kepadanya tentang konsep fana di dalam pesta kepadanya. Sesekali ia mengungkapkan argumen atau hanya membalas dengan ‘ya’ dan anggukan. Aku rasa ia mengerti. Ia adalah versi lain dari diriku hanya saja lebih terbuka.

“’Surrounding yourself with happy people will make you happy too.’ Aku setuju dengan Raya tapi aku rasa kamu harus menemukan bagaimana versi happy people menurut kamu biar kamu bisa menemukan happiness. Kalau kamu enggak bisa blend in dengan konsep bahagia orang lain, then be one and create one.”

Malam itu kami habiskan dengan mengobrol panjang lebar tentang kehidupan, fana, orang yang bahagia, pencapaian, cita-cita dan banyak konsep lainnya. Kisah kami hanya bermula dari kebosanan sebuah pesta yang orang lain suka tapi kami tidak. Sejak itu, kami sudah menemukan konsep happiness dan happy people. Happiness bagi kami adalah menghabiskan banyak fiksi dengan diiringi alunan musik yang lembut di kafe favorit kami, di sini. Sementara, happy people menurut kami bukanlah orang-orang yang tertawa dan mengikuti alunan musik di pesta, tetapi barista, pelayan kafe, orang-orang yang berlalu lalang di di dalamnya, buku-buku, musik-musik lembut, dan Iqbal—menuruku, serta aku—menurutnya.

 

***

miladiyah 2017

Advertisements

memories

I still remember the day when we traced small streets and talked about anything. We didn’t even want to go home because we got bunch of stories to tell. I can’t remember what it was, but it was fun, for sure. It was the only remedy that I need when I had been hurt by somebody.

I still remember the day when I forced you to go to junk food resto with me just because I said I wanted to drink a cup of terrible coffee. Even, you just bought me a brand new tasty seed that was ready to get brewed in the morning. I didn’t even want burgers or fries because in fact, I just needed a company. You complained a lot that time. But, you did go, anyway.

I still remember the day when we spent in a bookstore. It would be 3 or 5 hours, you didn’t mind if we stay there much longer. We went to different shelves, but it was okay. At the end, we just pleased ourselves by reading books with no money.

I still remember the day when I accompanied you studying in some diners. I didn’t have to get what you were doing besides I would be drowned by words in front of me. As long as I stayed quiet, then it would be fine.

I still remember them all. I still remember the smallest part. I still remember the little thing.

I can’t rewind it now because thing happens only once in this lifetime. Sometimes, or maybe many times, I miss them much. I hate the fact that it was over. I hate the fact that I spend my time to remember.

I know it was long time ago. And now, we don’t even say hello.